Feeds:
Pos
Komentar

Seminggu setelah presentasi Tejo, Mbah Mur pindah. Tejo membuatkan sebuah bangunan bambu di pojok belakang rumah Mbah Mur. Kesehatannya memburuk karena dingin. Beberapa orang yang berkunjung untuk berobat terbentur oleh Tejo.

“Mbah Mur sakit. Mengobati diri sendiri saja sulit apalagi mengobati orang lain”

Tidak ada yang menengok kecuali anak-anak yang penasaran ingin melihat Mbah Mur. Juga anak-anak yang disuruh orang tuanya untuk menengok mbah Mur diam-diam. Di halaman luas penuh pohon buah itu sudah berdiri papan nama gagah

“Sekolah Kesedihan Negeri Sawo Mateng”. Pendopo utama sudah berjajar meja-meja yang diatasnya mesin ketik tua. Tejo setiap pagi sudah tidak menyapu halaman lagi, dia sudah mengangkat kebon. Seorang pemuda pengangguran dan tidak jelas asal-usulnya. Demikian sebulan ini Tejo sudah menjiwai sebagai kepala sekolah. Kewibawaannya sedikit demi sedikit semakin terasa. Memang belum ada siswa yang mendaftar, juga guru yang mengajar, namun Tejo masih yakin sekolahnya akan banyak murid.

“Jo, kamu tega sekali”

Lanjut Baca »

Sekolah Kesedihan (Bag-2)

Malam harinya, Tejo memilih untuk merebahkan diri di halaman tanah yang kering dengan alas tikar. Dia memang suka melihat bintang-bintang. Hanya suka melihat saja. Tapi malam ini dia tidak sebatas hanya suka melihat, dia memikirkan apa yang dipikirkan orang-orang saat menyebut bintang-bintang menjadi rasi. Mereka-reka bentuk kumpulan bintang, dinamai dan dijadikan cerita.

“Jo, kira-kira, jika kamu dilahirkan buta, apa yang kau fikirkan tentang bintang?”

Setiap Tejo melihat bintang, selalu pertanyaan mbah Mur itu yang terngiang. Pertanyaan yang tidak pernah dia jawab. Dan memang dia tak sanggup memikirkan tentang itu.

“atau kira-kira, jika kamu buta dan tuli dan tak pernah mendengar cerita tentang bintang, apa yang kau fikirkan tentang bintang?”
“Tentu saya tak pernah memikirkan bintang mbah”
“Lalu kau memikirkan apa?”
“Ya memikirkan rasa mbah, pedas, manis. Atau mikirin bau.”

Ingatan-ingatan Tejo hampir bisa dipastikan selalu tentang percakapannya dengan mbah Mur kala melihat bintang. Kala itu dia masih SMA.

“Jika kamu buta dan tuli, apa yang membuatmu senang atau sedih?”

Lanjut Baca »

Sekolah Kesedihan (Bag-1)

“Jo, coba kamu pikirkan untuk membuat sekolah kesedihan untuk anak-anak”

Tejo diam dalam kesibukannya membersihkan daun mangga kering yang berserak di halaman. Hari ini pikirannya tidak seperti biasanya yang hanya berfikir semacam, menyelesaikan pekerjaan.

“Anak-anak sekarang sudah terlanjur dimanja untuk selalu riang, hingga gampang bosan. Sering berpindah kesenangan”

Tejo kali ini berhenti. Dia memandangi Muryati, seorang nenek yang dikenal sebagai paranormal dan lebih sering dipanggil nenek sihir oleh anak-anak. Anak-anak desa Beji ini sudah kapok bermain di halaman asri Mbah Mur, mereka selalu sakit panas sehabis bermain. Kata orang-orang desa mereka terkena sawan penunggu pohon-pohon besar di halaman. Ada pohon sawo, klengkeng, mangga, nangka dan juwet.

Lanjut Baca »

“Seperti nggak Malam”

Begitu kata pak Ainul Hidayat, eksekutif produser video klip sepertiga malam, sebuah lagu ciptaan kang budi cilok. Pak Ainul selanjutnya mengungkapkan tentang ide dan gagasan saat lagu tersebut belum tercipta. Bahwa ada gerak hidup di semua waktu. tidak hanya terbatas pada siang saja. dan manakala kita nyenyak tidur mungkin di sisi lain ada orang-orang yang mengisi malam mereka dengan berbagai penyikapan dan perenungan. begitulah sepertiga malam ini seperti nggak malam.

Lanjut Baca »

Menjadi Manusia Merdeka

Selalu ada pelajaran setiap saya ‘berjalan-jalan’ menyusuri sebuah desa. pelajaran ini beberapa berupa ingatan-ingatan nasehat para orang tua yang sempat saya jumpai manakala berkunjung ke sebuah desa. walaupun dalam rangkanya tidak dalam konteks perenungan hidup, seringkali nasehat-nasehat datang begitu saja tanpa diminta dan selalu dalam bentuk-bentuk yang sangat berkonteks dengan apa yang saya fikirkan saat itu.

seperti kemarin, saat sedang menyusuri sebuah kampung, saya sedang memikirkan tentang proses kekaryaan, dan tiba-tiba ingatan memanggil saya untuk mencermati sosok-sosok seniman tradisi yang beberapa menjadi sahabat. ingatan yang terpicu hadir gara-gara melihat pagar tanaman yang rapi di depan sebuah rumah. para seniman ini tidak pernah berkata secuil pun tentang kehidupan pada saya. tips n trik menghadapi kehidupan ataupun tips n trik tentang kekaryaan. dan toh apa yang perlu dibicarakan? segala hal tinggal dijalani. persoalan menjalani adalah sebuah hal yang lain, dan selalu bagian ini yang menjadi pelajaran penting.

Lanjut Baca »

“Setidaknya ada 4 hukum Tuhan yang melekat kuat dalam diri manusia dan tidak bisa diwakilkan pada siapapun.” demikian cerita seorang teman saya yang mengunjungi klentheng sam po kong di semarang. Selalu menjadi hari yang menyenangkan ketika ada sebuah cerita. Saya memang menyukai cerita. dan berikut adalah cerita teman saya hasil pertemuannya dengan penjaga klentheng.

Lanjut Baca »

Terus Kenapa?

Malam minggu, dingin dan Bandung. Trus kenapa? sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak jelas ingin bertanya tentang apa. Mungkin pertanyaan yang tepat adalah ada apa dengan malam minggu? ada apa dengan dingin? ada apa dengan bandung? atau ada apa dengan malam minggu, dingin dan Bandung? pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab. toh sudah seperti jelas (karena belum terlalu jelas), tinggal di Bandung sudah bertahun-tahun, melewati ratusan malam minggu, melewati jutaan dingin dan tentu saja mungkin saja sudah milyaran kali menyebut Bandung dan tiba-tiba menulis sebuah status FB “malam minggu, dingin dan Bandung”. Adakah yang istimewa dari itu?

Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 469 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: